Mengenal Lebih Dekat Desa Adat Kemiren Banyuwangi

By | 15 Agustus 2017

Indonesia adalah salah satu negara yang terkenal dengan kekayaan budayanya. Dan salah satu budaya lokal nusantarany terdapat di Banyuwangi. Bagi anda yang senang berpetualang, cobalah sekali kali untuk mengeksplorasi keberagaman budaya kita. Sebagai permulaan, Anda bisa memulai dari Desa Adat Kemiren Banyuwangi.

Desa adat Kemiren Banyuwangi adalah tempat tinggal masyarakat suku Using yang berada di desa Kemiren, kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi.  Menurut para sesepuh desa,asal mula kata Kemiren, berawal dari awal ditemukannya desa Kemiren. Pada saat itu, desa tersebut masih berupa hutan yang terdapat banyak pohon kemiri dan duren (durian) itulah yang menjadikan daerah tersebut dinamakan “Desa Kemiren” yang merupakan gabungan dari kata Kemiri dan Duren. Jika dirunut dari sejarah, masyarakat Desa Kemiren berasal dari orang-orang yang mengasingkan diri dari kerajaan Majapahit setelah kerajaan ini runtuh sekitar tahun 1478 M. Kelompok masyarakat yang mengasingkan diri ini kemudian mendirikan kerajaan Blambangan di Banyuwangi dengan menganut agama Hindu-Buddha seperti halnya kerajaan Majapahit. Desa Kemiren sendiri lahir pada zaman penjajahan Belanda, yaitu pada sekitar tahun 1830-an. Awalnya, desa ini hanyalah berupa hamparan sawah hijau dan hutan milik para penduduk Desa Cungking, yang konon menjadi cikal-bakal masyarakat Osing di Banyuwangi, hingga saat ini, Desa Cungking masih tetap ada, letaknya sekitar 5 km arah timur Desa Kemiren.

 

Secara sosiologis, masyarakat di desa ini masih memperlihatkan tata kehidupan sosio-kultural yang berpegangan teguh pada nilai tradisional Osing. Pada masa kepemimpinan Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman, Desa Kemiren pun ditetapkan menjadi kawasan wisata desa adat Osing. Osing sendiri merupakan salah satu komunitas etnis yang berada di daerah Banyuwangi dan sekitarnya. Masyarakat desa Kemiren sendiri masih mempertahankan bentuk rumah sebagai sebuah bangunan yang memiliki nilai filosofis tersendiri, adapun bentuk rumah tersebut meliputi:

  • Rumah tikel balung atau beratap empat, yang melambangkan bahwa penghuninya sudah mapan.
  • Rumah crocogan atau beratap dua yang mengartikan bahwa penghuninya adalah keluarga yang baru saja membangun rumah tangga atau keluarga yang ekonominya relatif rendah, dan
  • Rumah baresan atau beratap tiga yang melambangkan bahwa pemiliknya sudah mapan, namun secara materi tingkatnya berada di bawah rumah bentuk tikel balung.

Lalu, apa saja keistimewaan di desa adat ini? Berikut ulasannya.

 

  • Sanggar Genjah Arum

Sanggar ini ibarat sebuah museum untuk Desa Adat Kemiren Banyuwangi. Tempat ini milik pribadi yang dikelola sendiri oleh seorang pengusaha dengan tujuan untuk melestarikan kebudayaan tradisional Banyuwangi. Masuk ke dalam sanggar ini, seolah membawa Anda serasa kembali ke Banyuwangi di masa lampau. Selain itu, ada pula tujuh rumah adat yang usianya sudah sangat tua, dan juga beberapa ornamen kuno yang membuat suasana tempo dulu semakin terasa kental.

 

  • Angklung Paglak

Paglak adalah sebutan untuk sebuah gubuk kecil yang dibuat dari bambu dengan atap ijuk. Tapi, berbeda dengan gubuk kebanyakan, paglak dibangun setinggi hampir 10 meter dari tanah dengan menggunakan empat batang bambu sebagai penyangganya. Sedangkan angklung paglak sendiri adalah permainan musik yang dilakukan di atas gubuk tersebut. Seni musik ini menjadi salah satu warisan adat kebudayaan yang dilestarikan oleh para penduduk Desa Adat Kemiren Banyuwangi yang terus dipertahankan hingga sekarang.

 

  • Musik Lesung

Jika anda datang ke Desa Adat Kemiren Banyuwangi ini, anda akan akan dihibur oleh pertunjukan musik lesung. Musik tradisional ini dimainkan oleh para wanita lansia yang masih sangat lihai dalam mengalunkan melodi dari penggabungan alu dan lesung. Kesenian musik tradisional yang merupakan warisan budaya asli suku Using.

 

  • Tari Gandrung

Selain alat musik, pesona budaya lainnya yang bisa ditemui di Desa Adat Kemiren Banyuwangi adalah pertunjukan Tari Gandrung. Sambil bersantai di Sanggar Genjah Arum, anda akan dihibur oleh para penari yang menarikan tarian tradisional. Ada adat tidak tertulis yang harus dipahami oleh para setiap tamu. Jika anda menerima selendang dari penari, maka Anda harus ikut menari bersama penari.

 

  • Kopai Using

Belum afdol rasanya jika mengunjungi Desa Adat Kemiren Banyuwangi tanpa mencicipi Kopai Using, atau kopi khas masyarakat Using yang dikenal memiliki cita rasanya yang begitu nikmat. Selain mencicipi, anda juga bisa coba untuk praktek langsung, mulai dari proses pengolahan berupa menyangrai, menumbuk biji kopi, menyaring bubuk kopi sampai cara penyajiannya. Diolah menjadi minuman kopi jenis apapun,baik itu espresso atau robusta, rasanya akan terasa lebih nikmat.

 

Desa Adat Kemiren Banyuwangi merupakan salah satu tempat yang tepat bagi anda untuk melakukan perjalanan eksplorasi budaya lokal. Dengan berwisata kesini juga merupakan bentuk melestarikan budaya. Jika anda tertarik mengunjungi Desa Adat Kemiren Banyuwangi, anda bisa beli tiket Wings Air yang menyediakan jalur penerbangan langsung dari Jakarta menuju Banyuwangi. Anda juga bisa booking tiket pesawat nya terlebih dahulu melalui situs Reservasi.com selamat berlibur!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *